Museum Barli

Museum Barli, Sukarasa, Bandung City, West Java, Indonesia

Senin - Sabtu 09.00–17.00 Minggu Tutup.

0222011898

Di MUSEUM BARLI orang dapat melihat perkembangan gaya seni lukis Barli dari masa ke masa, mulai dari aliran realisme, dari masa awal langkah Barli sebagai pelukis, impresionisme dan ekspresionisme. Sayang sekali, karya Barli sebelum tahun empat-puluhan tidak terdapat di Museum, semuanya hilang ketika revolusi.
Museum Barli dibangun sebagai manifestasi kecintaan Barli pada seni lukis sekaligus bertujuan meningkatkan apresiasi seni bagi masyarakat Indonesia. Barli yang dilahirkan di Bandung, 18 Maret 1921, pada awalnya merupakan salah seorang illustrator, dosen, dan pelukis angkatan 1935 bersama dengan Affandi, Hendra Gunawan, Wahdi Sumanta, dan Sudarso. Selain sebagai pelukis, ia dikenal sebagai pendidik yang melahirkan pelukis-pelukis muda lewat Studio Ranggagempol yang didirikan pada tahun 1958.

Pengabdiannya sebagai pelukis sampai akhir hayatnya, berlangsung sejak kecil karena Kegemarannya pada menggambar sudah sejak kecil. Ia pertama kali belajar melukis dari Luigi Nobili, seorang pelukis Italia. Saat itu, Barli merupakan satu-satunya murid bumiputera. Tahun 1950 ia melanjutkan di Acedemie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis dan setahun kemudian di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda.

Dari sekian banyak karyanya, salah satu yang tidak banyak diketahui adalah, Barli telah menciptakan lambang Divisi Siliwangi yang pertama pada tahun 1946. Saat itu pembuatannya masih sangat sederhana. Gambar harimau pada setiap emblem, dibuat secara manual di atas kain belacu putih yang dilapisi kertas karton berbentuk bundar dengan garis tengah sekitar delapan sentimeter. Karena tidak sama bentuknya, lambang harimau tersebut kemudian diolok-olok pasukan tentara Belanda dengan julukan “Lieve Poesjes” atau kucing-kucing yang manis karena gambar harimaunya mirip kucing.

Sebagai salah satu bentuk perjalanan seni lukis modern di kota Bandung, Museum Barli dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 640 M2 dengan luas bangunan seluruhnya 1.200 M2. Bangunannya terdiri dari tiga lantai dan terbagi dalam empat ruangan dengan fungsi masing-masing, dimana kita bisa menyaksikan perkembangan seni lukis Barli dan kehidupan pribadinya.

Lantai dasar dinamakan lantai Agung, dimanfaatkan untuk pendidikan, diskusi, dan pegalaran seni. Nama Agung diambil nama putranya, Agung Wiwekaputra. Lantai satu dinamakan Nakisbandiah digunakan untuk ruang pameran. Nama itu diambil dari nama salah seorang istrinya. Bagian sayapnya diberi nama Chandra’s Gallery yang dimanfaatkan untuk ruang pameran.

Lantai dua diberi nama ruang Atikah, dimanfaatkan untuk koleksi pilihan karya Barli Sasmitawinata dan koleksi khusus. Ruangan ini memberi kesan istimewa yang memberikan gambaran kronologis hidup Barli. Bentuk ruangannya melingkar dimana di dalamnya tersimpan karya-karya kubisme dan ekspresionisme Barli. Atikah adalah istri pertama Barli yang memperoleh tempat istimewa. Ia memberi dorongan kuat perjalanan karirnya pada masa-masa awal yang penuh dengan kesulitan. (Sumber)

Informasi Lain

Tempat Parkir


Visited 889 times, 1 Visits today

Mari Berdiskusi

Silahkan Review

Notify
avatar
wpDiscuz

Orang lain juga mencari

Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, di mana ditampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika ingin mengunjungi tempat wisata ini, maka akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana

Ada cerita unik di balik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Dia ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh.

(Sumber)

Posted In  Lokal and  Museum

Museum menawarkan pengalaman yang unik bagi pengunjung. Temukan kisah keluarga pendiri dan pengembangan bisnis Sampoerna, dan mengamati fasilitas produksi linting tangan nyata dengan lebih dari 400 perempuan linting rokok pada kecepatan lebih dari 325 batang rokok per jam.

Posted In  Lokal and  Museum

Museum Angkut adalah salah satu tempat wisata di Malang yang terbilang masih baru. Tapi baru beberapa tahun keberadaannya museum yang satu ini telah menyedot pengunjung yang lumayan banyak. Banyak pengunjung dari berbagai daerah datang ke sini karena museum yang satu ini memang cukup unik dan satu-satunya di Indonesia.

Museum Angkut menyuguhkan tema transportasi dengan menyajikan koleksi aneka macam alat transportasi dari berbagai jaman dan berbagai tempat di dunia. Di sini pengunjung bisa mengetahui sejarah transportasi dunia khususnya di Indonesia. Dengan membayar harga tiket masuk Museum Angkut yang cukup terjangkau anda bisa menyaksikan berbagai zona transportasi yang dipamerkan dengan latar belakang kota yang berbeda-beda dan sangat bagus bahkan mirip dengan aslinya.

Posted In  Destinasi LiburanHiburan and  Wisata