Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution

Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution

Senin - Kamis, Sabtu 08.00 - 15.00 WIB Harga Tiket Masuk: Rp 5000 Minggu dan Hari Libur, 08.00 - 16.00 WIB Harga Tiket Masuk: Rp 6000 Jum'at TUTUP kecuali LIBUR NASIONAL

http://tamanlalulintasbandung.com

(022) 4201667

YAYASAN TAMAN LALU LINTAS ADE IRMA SURYANI NASUTION BANDUNG (YTLL-AISN) mengemban dan melaksanakan Misi dan Visi dari suatu Perkumpulan Sosial bernama PERKUMPULAN BADAN KEAMANAN LALU LINTAS (BKLL) dengan STATUS Badan Hukum SK Menteri Kehakiman RI termuat dalam tambahan Berita Negara RI tgl. 12 Maret 1961 No. 21 yang berpusat di Jakarta dan mempunyai cabang-cabangnya di kota-kota besar di Indonesia dn salah satunya di Bandung didirikan sekitar tahun 1951.


Visited 677 times, 1 Visits today

Mari Berdiskusi

Silahkan Review

Notify
avatar
wpDiscuz

Orang lain juga mencari

Farmhouse merupakan salah satu destinasi wisata terbaru yang lagi ramai dikunjungi di Lembang. Jika penasaran dengan rumah Hobbit yang sangat unik dan khas itu, kamu tak perlu jauh-jauh pergi ke Selandia Baru. Cukup datang ke Lembang, lebih tepatnya ke Farmhouse Susu Lembang yang beralamat di Jl. Raya Lembang no. 108, Cihideung, Bandung, Jawa Barat. 

Farmhouse yang ada di Lembang ini merupakan tempat wisata baru yang dikelola oleh perusahaan penjual susu di Bandung. Selain rumah Hobbit, banyak juga hal lain yang dapat kamu nikmati di sini. Tempat ini sangat cocok bagi kamu yang gemar berfoto. Di sini, bisa didapati rumah-rumah bergaya Eropa, lengkap dengan taman yang mengelilinginya.

Kamu juga bisa berfoto dengan memakai kostum tradisional Eropa yang sudah disediakan. Tempat wisata yang satu ini memang didesain dengan tema pedesaan Eropa, sehingga kamu pun dapat menemukan hewan seperti biri-biri, sapi, dan kuda.

Tersedia kafe-kafe yang seperti umumnya segala hal di tempat ini, didesain dengan unik dan artistik. Fasilitas lain yang disediakan pengelola tempat ini adalah toilet dan musala. Yang pasti sekarang ada ungkapan yang lagi ngehits di kalangan wisatawan: “Belum sah wisata di Bandung kalau belum selfie di Rumah Hobbit”.

Posted In  Bangunan BersejarahCafeGaleri dan BudayaHangoutHiburanKulinerLokal and  Wisata

Bermula sebagai tempat pemeliharaan kuda tunggang, dan beberapa ekor sapi perah, tempat seluas 5 Ha ini dari segi lokasi , kontur dan pemandangan alam mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan menjadi suatu tempat wisata. Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan Perry Tristianto dari THE BIG PRICE CUT Group untuk mengembangkan tempat ini dengan menampilkan konsep ‘wisata kuda ala cowboy’.

Konsep ini dirasakan cocok dengan suasana peternakan, dan nama DE’RANCH digunakan sebagai nama tempat ini, kemudian Uke Ridwan ditunjuk untuk mewakili THE BIG PRICE CUT sebagai pengelola DE’RANCH.

Pada bulan Desember 2007, DE’ RANCH resmi dibuka untuk umum sebagai tempat wisata kuda ala cowboy yang bertemakan ‘food, leisure and knowledge’. Untuk Uke Ridwan, kuda bukanlah binatang asing, kuda telah dikenalnya semenjak usia 10 tahun, dan sebagai pehobby kuda, mengelola sebuah tempat yang berhubungan dengan kuda adalah cita-cita nya sejak kecil. Hingga saat ini DE’ RANCH telah mempunyai sekitar 20 ekor kuda dari pelbagai daerah dan dalam pengoperasian wisata kuda DE’RANCH pun bekerja sama dengan masyarakat pemilik kuda yang berdomisli di sekitar lokasi DE’RANCH.

Posted In  CafeHangoutHiburanKulinerMasakan SundaOleh-oleh dan JajananPermainan & Wahana and  Wisata

Kampung Gajah Wonderland adalah salah satu lokasi Objek wisata di Bandung yang asyik dan seru untuk kegiatan liburan di Bandung bersama keluarga atau sahabat dan siapa pun teman anda, yang berlokasi tepatnya berada di Jl.Sersan Bajuri Km 3,8 Cihideung Parongpong Lembang Bandung barat. Sebagai kawasan Wisata Alam di Lembang yang favorit dan merupakan salah satu kawasan wisata terpadu, maka Kampung Gajah Wonderland yang berdiri di areal wisata yang bisa dikatakan sangat luas serta tentunya dilengkapi berbagai fasilitas wisata terpadu yang akan mampu memberikan pengalaman wisata yang unik, berkesan dan berbeda dari yang lain. Sebagai tempat wisata di bandungyang selalu ramai di akhir pekan apalagi musim liburan, Tempat wisata di Lembang bandung ini memiliki dan menerapkan berbagai macam jenis Tiket Masuk Kampung Gajah yang berbeda dan harus anda ketahui apabila anda ingin menikmati berbagai fasilitas wisata atau wahana Kampung Gajah yang dijamin akan memberikan suasana liburan ceria

Posted In  HangoutHiburanKolam RenangPermainan & Wahana and  Wisata

5 Maret 1929, adalah hari di saat pasangan suami istri Wiranta dan Imi dikarunia putra keenam mereka, yang kemudian diberi nama Udjo.
Udjo kecil sudah memperlihatkan bakatnya dan ketertarikannya dalam dunia seni, musik dan budaya sejak usia balita. Udjo mempelajari Angklung dalam dua tangga nada dasar, yaitu diatonik dan pentatonik, hal ini menjadikannya mahir untuk memainkan berbagai jenis musik, mulai dari musik tradisional Sunda dan lagulagu popular Indonesia, serta juga, lagu dari negara Belanda.
Kepiawaiannya dalam berkesenian terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dan kemudian Udjo menjadi seorang guru kesenian di beberapa sekolah di Bandung. Keinginannya untuk terus maju mendorongnya untuk mempelajari kesenian langsung dari para maestro kesenian Sunda, mereka adalah : Mang Koko sang ahli Kecapi; Rd. Machyar Angga Kusumahdinata seorang guru gamelan; dan Daeng Soetigna sang inventor Angklung diatonik. Tak lama kemudian, Udjo didaulat untuk menjadi asisten dari Daeng Soetigna, dan kemudian mewakilinya untuk memimpin sebuah pertunjukan musik.

Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena SAU memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu. Kehadiran SAU di Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda – khususnya Angklung – kepada masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan

Dengan atmosfer segar Tatar Parahyangan di kawasan Bandung Timur, SAU menjadi tempat yang tepat untuk menikmati keunikan dari dominasi bambu, dimulai dari elemen interior dan landscape sampai dekorasi dan gemerincingnya suara alat musik bambu. Sehingga menggambarkan keharmonisan diantara alam dan budaya, karenanya, tidaklah mengherankan apabila SAU kini berkembang menjadi sebuah tujuan pengalaman wisata budaya yang lengkap – tempat untuk bisa merasakan kebudayaan sunda sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya dunia.

Posted In  Edukasi & KursusGaleri dan BudayaKomunitas & Layanan Non ProfitKursus LainnyaLokalMusik & InstrumentOleh-oleh dan JajananSeni & Kesenian and  Wisata

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda awalnya berstatus sebagai hutan lindung (Komplek Hutan Gunung Pulosari) yang batas-batasnya ditentukan pada tahun 1922.

Sejak kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 secara otomatis status kawasan hutan negara dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Djawatan Kehutanan.

Kawasan hutan ini dirintis pembangunannya sejak tahun 1960 oleh Bapak Mashudi (Gubernur Jawa Barat) dan Ir. Sambas Wirakusumah yang pada waktu itu menjabat sebagai Administratur Bandung Utara merangkap Direktur Akademi Ilmu Kehutanan, dan mendapat dukungan dari Bapak Ismail Saleh (Menteri Kehakiman) dan Bapak Soejarwo (Dirjen Kehutanan Departemen Pertanian). Pada tahun 1963 sebagian kawasan hutan lindung tersebut mulai dipersiapkan sebagai Hutan Wisata dan Kebun Raya.  Tahun 1963 pada waktu meninggalnya Ir. H. Djuanda, maka Hutan Lindung tersebut diabadikan namanya menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda untuk mengenang jasa-jasanya dan waktu itu pula jalan Dago dinamakan jalan Ir. H. Djuanda.

Untuk tujuan tersebut, kawasan tersebut mulai ditanami dengan tanaman koleksi pohon-pohonan yang berasal dari berbagai daerah.  Kerjasama pembangunan Kebun Raya Hutan Rekreasi tersebut melibatkan Botanical Garden Bogor (Kebun Raya Bogor) , dengan menanam koleksi tanaman dari di Bogor.

Pada tanggal 23 Agustus 1965 diresmikan oleh Bapak Gubernur Mashudi sebagai Kebun Raya Hutan Rekreasi lr. H. Djuanda sebagai Embrio Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dikelola oleh Dinas Kehutanan (dulu Djawatan Kehutanan Propinsi Jawa Barat).

Posted In  Bangunan BersejarahEdukasi & KursusGaleri dan BudayaHangoutMuseumRuang Publik and  Wisata