• My Nearest City

Lokal

Informasi Daftar alamat dan kontak telepon lokal tempat yang dapat di hubungi di kota Jakarta, Bandung dan kota Indonesia lainnya. Temukan tempat tujuan terdekat di kota anda.

0315634242

Town Square Surabaya First Level I 73, Jl. Hayam Wuruk No. 6, Jawa Timur 60242. De Mata Trick Eye Museum, Sawunggaling, Surabaya City, East Java, Indonesia

Museum 3 Dimensi terbesar di dunia karena menyediakan lebih dari 100 background,dimana kita bisa foto-fotoan dengan gaya suka-suka dan ekspresi gokil.

Posted In  Lokal and  Museum

0315490410

Jl. Pemuda No.39, Embong Kaliasin, Genteng, Kota SBY, Jawa Timur 60271. Monumen Kapal Selam, Surabaya, Jalan Pemuda, Embong Kaliasin, Surabaya City, East Java, Indonesia

Setiap hari: 08.00 - 22.00 wib.

0315490410

Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, di mana ditampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika ingin mengunjungi tempat wisata ini, maka akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana

Ada cerita unik di balik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Dia ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh.

(Sumber)

Posted In  Lokal and  Museum

0313539000

Taman Sampoerna No.6, Jawa Timur 60163. House of Sampoerna, East Java, Indonesia

Setiap Hari Pk. 09.00 - 22.00

Museum menawarkan pengalaman yang unik bagi pengunjung. Temukan kisah keluarga pendiri dan pengembangan bisnis Sampoerna, dan mengamati fasilitas produksi linting tangan nyata dengan lebih dari 400 perempuan linting rokok pada kecepatan lebih dari 325 batang rokok per jam.

Posted In  Lokal and  Museum

Taman Sari, Yogyakarta, Patehan, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. (Jl. Nogosari No.6, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55132)

Setiap Hari Pk 06.00 s/d 17.00

Tempat Parkir

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta (Hanacaraka: ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦫꦶꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦡ, Tamansari Ngayogyakarta) adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan “The Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.

Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.

(Sumber)

Posted In  Bangunan Bersejarah and  Lokal

(0651) 40774

Museum Tsunami Aceh, Jalan Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Banda Aceh City, Aceh, Indonesia. Jl. Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23125

Museum Tsunami Aceh (bahasa Inggris: Aceh Tsunami Museum) adalah sebuah museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.[2] Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.[1]

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.[2]

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

(Sumber)

Posted In  Galeri dan BudayaLokal and  Museum

+62 986 212303 / +62 986214719

Taman Nasional Teluk Cenderawasih, West Papua, Indonesia

Sen: 7:30 - 16:00 Sel: 7:30 - 16:30 Rab-Jum: 7:30 - 16:00

Teluk Cendrawasih adalah sebuah taman nasional yang terletak di Pulau Papua. Secara administratif, taman nasional ini berada di wilayah Kabupaten Manokwari, Propinsi Papua Barat, dan Kabupaten Paniai, Propinsi Papua, Indonesia. Taman nasional ini merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia. Taman Nasional Teluk Cendrawasih memiliki luas 1.453.500 hektar yang terdiri dari pesisir pantai, daratan, pulau-pulau, terumbu karang, dan perairan.

Teluk Cendrawasih sangat kaya akan flora dan fauna. Tercatat, 14 jenis flora yang dilindungi berada di sini. Sebagian besar terdiri dari jenis pohon kasuarina. Selain itu, di taman nasional ini juga terdapat 36 jenis burung, yang 18 di antaranya dalam status dilindungi. Perairan Teluk Cendrawasih juga tak kalah kayanya. Terdapat 196 jenis moluska, 209 jenis ikan, dan beberapa spesies penyu seperti penyu sisik, penyu hijau, atau penyu belimbing. Anda juga bisa menemui paus dan lumba-lumba hidup bebas di kawasan ini. Kedua jenis hewan ini dapat tinggal dengan tenang sini karena tidak ada pemburu paus ataupun lumba-lumba, serta berlimpahnya makanan yang disediakan Teluk Cendrawasih bagi mereka.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Taman Nasional Teluk Cendrawasih sangat kaya akan ikan. Terdapat kurang lebih 209 jenis ikan di kawasan ini, diantaranya angelfish, butterflyfish, rabbitfish, parrotfish, dan anemonefish. Berbagai jenis moluska juga menghiasi lautan, seperti keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), dan lain sebagainya. Satwa-satwa air lain nan eksotis juga tinggal di perairan ini, contohnya penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), lumba-lumba, dan hiu.

Tempat-tempat Menarik
Teluk Cendrawasih menyajikan beragam hal menarik yang siap dijelajahi para pengunjunggnya. Jika ingin melakukan wisata bahari, Pulau Nusrowi, Pulau Yoop, dan Pulau Mioswaar dapat menjadi pilihan yang menarik. Di perairan pulau-pulau ini, pengunjung dapat menikmati keindahan bawah laut yang penuh warna yang sangat cocok digunakan untuk lokasi menyelam. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati perilaku ikan paus dan lumba-lumba yang hidup bebas di sini.

Jika ingin menjelajahi gua, kunjungi saja Pulau Mioswaar. Di sini terdapat gua alam peninggalan zaman purba dan juga sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam. Gua ini merupakan gua bersejarah karena di dalamnya terdapat kerangka leluhur etnik Wandau. Konon, merekalah kelompok manusia pertama yang datang ke pulau ini. Di Pulau Numfor, juga terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat tengkorak manusia serta piring-piring antik dan peti-perti berukir.

Jika menginginkan pengalaman yang sedikit berbeda, anda bisa mencoba mengunjungi Tanjung Mangguar. Di sini, terdapat gua dalam air dengan kedalaman 100 kaki. Selain itu, terdapat peninggalan-peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai di beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani juga banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.

Selain itu, masih ada Pulau Rumberpon yang menawarkan berbagai pengalaman menarik. Di pulau ini, pengunjung dapat melakukan pengamatan terhadap burung, penangkaran rusa, wisata bahari, dan juga dapat melihat kerangka pesawat tempur Jepang yang tenggelam saat perang dunia II.

Posted In  Galeri dan BudayaLokal and  Museum

081289287900 (hunting)

PT. Balai Pustaka, Palmeriam, East Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta, Indonesia

021-29622129

Didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1996 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Umum (Perum) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, yang kemudian dikukuhkan melalui Akta Notaris Pendirian Perusahaan Perseroan Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka tertanggal 30 Desember 1996 oleh Notaris Chufran Hamal, SH. di Jakarta, dan disahkan oleh Menteri Kehakiman melalui Keputusan Nomor C2-1820HT.01.01 Tahun 1997 tanggal 17 Maret 1997.

Posted In  Galeri dan BudayaIndustri & PerusahaanInstitusi Pemerintahan & InternasionalPercetakan and  Toko Buku

085720427836

Gedung Rumentang Siang, Kebon Pisang, Bandung City, West Java, Indonesia

Setiap Hari Pk 08.00 s/d 22.00

Tempat Parkir

Gedung ini adalah bekas Bioskop Rivoli yang semarak sekitar tahun 1930-an. Gedung ini bergaya arsitektur art-deco. Gedung ini mampu menampung sekitar 350 penonton. Kini Rumentang Siang masih menjadi “rumah” bagi para seniman Bandung, seperti para pemain teater, penyanyi, penari, dan penyair.

Posted In  Galeri dan Budaya and  Lokal

Gedung Pakuan, Babakan Ciamis, Bandung City, West Java, Indonesia. Jl. Cicendo No 1 Pasir Kaliki Bandung, 40171

Bangunan bersejarah, Kediaman Resmi Gubernur Jawa Barat.

Setelah Kota Bandung ditetapkan menjadi ibukota Karesidenan Priangan menggantikan Cianjur pada 1856. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Ch. F. Pahud, memerintahkan untuk mendirikan rumah dinas Residen Priangan. Namun, pendirian tempat kediaman tersebut baru bisa dilaksanakan setelah ibukota karesidenan benar-benar pindah pada 1864, yakni pada masa kepemimpinan Residen Van der Moore.

Tempat kediaman residen dibangun di ujung Jalan Residen (Residentsweg) atau sekarang dikenal dengan nama Jalan Otista (Jalan Otto Iskandardinata) yang kemudian diberi nama Gedung Pakuan. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk membangun gedung ini hingga rampung. (Sumber)

Posted In  Bangunan Bersejarah and  Lokal