Dago Tea House

Jl. Bukit Dago Utara No.53, Dago

(022) 2501642

Dago Tea House terletak di kawasan Dago pada ketinggian 600 meter dari permukaan laut. Udara yang sejuk membuat pengunjung betah bersantai dan menikmati makanan dan minuman di sini. Anda dapat melewati Jalan Ir. H. Juanda untuk mencapai tempat ini hingga hampir ujung utara jalan ini.

Meski pada awalnya merupakan tempat untuk minum teh dan makan atau restoran, belakangan tempat ini diubah menjadi Taman Budaya Provinsi Jawa Barat. Di Taman Budaya Jawa Barat ini sering digelar berbagai pentas kesenian dan budaya Sunda. Belakangan namanya diubah menjadi Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat dibawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemda Provinsi Jawa Barat.

Tujuan didirikan Taman Budaya ini adalah sebagai pusat kebudayaan Jawa Barat atau cagar budaya. Di tempat ini sering diadakan pertunjukkan di tempat pertunjukkan dan teater terbuka. Lalu juga terdapat galeri seni yang menampilkan berbagai seni tradisional Jawa Barat. Terdapat juga ruang workshop untuk berbagai kegiatan seni dan budaya. Setiap minggu di tempat ini selalu ada pertunjukkan dan pagelaran seni serta budaya. Sedangkan setiap akhir tahun pada malam pergantian tahun, Taman Budaya menyelenggarkan pertunjukan Bajidoran.


Visited 1844 times, 1 Visits today

Add a Review

Rate this by clicking a star below:

 

Orang lain juga mencari

Pernah mendengar tentang sebuah kapal yang “terdampar” di tengah-tengah perbukitan? Kapal itu adalah Pinisi Resto, sebuah tempat makan berkonsep kapal  tradisional Pinisi yang terletak di kawasan dataran tinggi nan sejuk dan dikelilingi oleh danau dan hamparan perkebunan teh.

Anak-anak pasti akan senang jika diajak berkunjung ke kapal ini dan menikmati aneka hidangan yang amat lezat sambil merasakan suasana yang begitu mengesankan. Restoran yang menyajikan menu BBQ ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk berkumpul bersama keluarga…

 

Posted In  Kuliner and  Restoran

Pecel Lele Lela memiliki spesialisasi pada olahan lele semenjak tahun 2006. Menu yang paling digemari adalah Lele Original dan Lele Tepung. Namun tidak hanya itu, mereka juga memiliki varian olahan lele lainnya, seperti fillet, mayoneis, dan lainnya. Untuk minumannya, Pecel Lele Lela menyediakan es teh stroberi, yang merupakan campuran teh dengan buah stroberi segar.

Posted In  Kuliner and  Makanan Khas

Raja Baso Tahu Saboga, raja baso tahu sejak awal tahun 1986, dimulai sebagai usaha kecil yang dijajakan buatan sendiri industri tahu baso dan pangsit dengan mendelegasikan penjualan melalui pasar tradisional, toko roti, toko-toko di Bandung.

Pada tahun 2003, Raja Baso Tahu Saboga mulai mengembangkan beberapa outlet secara serentak di sejumlah mal ternama di kota Bandung, Jawa Barat. Sejak saat itu, nama merek Raja Baso Tahu Saboga telah berkembang dikenali kepada masyarakat melalui kehadiran gerai mal tersebut. Jumlah outlet Raja Baso Tahu Saboga terus berkembang, ke titik yang seperti yang sekarang ada 22 (dua puluh dua) cabang dibuka di seluruh Bandung, Jakarta, Surabaya, Palembang, Semarang, Pekanbaru, dan Makassar.

Bahkan sekarang, Raja Baso Tahu Saboga terus mengembangkan bisnisnya, dan tim manajemen telah memilih konsep waralaba sebagai sistem yang paling cocok untuk tujuan ini di masa depan. Untuk calon franchisee, Raja Baso Tahu Saboga menawarkan kesempatan yang sangat menarik untuk investasi di sektor kuliner, mengingat keunikan, prospek bisnis, data faktual, dan manfaat, bersama dengan sistem manajemen yang handal, yang semua telah membuktikan lucrativeness dan didukung keberhasilan dari bisnis kami.

OUTLETS ADDRESS PHONE NUMBER
Saboga Burangrang Jl. Burangrang No.39 (022) 7334019
Bandung Trade Center Jl. Dr.Junjunan No.146-148 (022) 6126603
Istana Plaza Jl. Pasir Kaliki Lt 3 (022) 6001125
Bandung Electronic Center Jl. Purnawarman Lt 3 blok C2 – C3 (022) 4224460
Trans Studio Mall Jl. Gatot Subroto Food Court Lt 2 (022) 91091449
Festival Citylink Jl. Peta No. 241 Unit Lt 3 (022) 6128591
Saboga Boromeus Jl Ir. H. Juanda No. 100 (RS. Boromeus IB 7 Gedung Irene Basement) (022) 92867692

 

Posted In  KulinerMasakan IndonesiaRestoranToko dan PasarToko Kue & Roti and  Toko Lainnya

Gedung ini adalah bekas Bioskop Rivoli yang semarak sekitar tahun 1930-an. Gedung ini bergaya arsitektur art-deco. Gedung ini mampu menampung sekitar 350 penonton. Kini Rumentang Siang masih menjadi “rumah” bagi para seniman Bandung, seperti para pemain teater, penyanyi, penari, dan penyair.

Posted In  Galeri dan Budaya and  Lokal

Bangunan bersejarah, Kediaman Resmi Gubernur Jawa Barat.

Setelah Kota Bandung ditetapkan menjadi ibukota Karesidenan Priangan menggantikan Cianjur pada 1856. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Ch. F. Pahud, memerintahkan untuk mendirikan rumah dinas Residen Priangan. Namun, pendirian tempat kediaman tersebut baru bisa dilaksanakan setelah ibukota karesidenan benar-benar pindah pada 1864, yakni pada masa kepemimpinan Residen Van der Moore.

Tempat kediaman residen dibangun di ujung Jalan Residen (Residentsweg) atau sekarang dikenal dengan nama Jalan Otista (Jalan Otto Iskandardinata) yang kemudian diberi nama Gedung Pakuan. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk membangun gedung ini hingga rampung. (Sumber)

Posted In  Bangunan Bersejarah and  Lokal

Museum Wangsit Mandala Siliwangi adalah museum senjata yang berada di Bandung, Jawa Barat.

Nama Siliwangi sendiri adalah seorang pendiri Kerajaan Pajajaran yang kekuasaanya tak terbatas, konon raja yang arif dan bijaksana serta wibawa dalam menjalankan roda pemerintahaan, sedangkan arti Mandala Wangsit adalah sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalu benda-benda yang ditinggalkannya.

Nama jalan tempat museum ini, Jl. Lembong, diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Museum Mandala Wangsit terdiri dari alat yang digunakan pada saat perang antara Jepang dan Indonesia. Terdapat beberapa alat yang digunakan pada saat perang, yaitu:

  • Bedug simarame
  • Senjata laras panjang dan pistol
  • Tentang terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 di Bandung
  • Peristiwa peracunan pada tanggal 17 Februari 1949

Bangunan yang memiliki gaya arsitektur Late Romanticism dibangun pada tahun 1910 sampai 1915 yakni pada masa kolonial Belanda sebagai tempat tinggal perwira Belanda. Namun tempat ini diambil alih oleh pasukan Siliwangi dan digunakan sebagai markas Divisi Siliwangi (Militaire Akademi Bandung) pada tahun 1949-1950 setelah kemerdekaan. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 4.176 M2 dengan luas bangunan 1.674 m2. Pada Tanggal 23 Mei 1966 bangunan ini dijadikan sebagai Museum Wangsit Mandala Siliwangi yang diresmikan oleh panglima Divisi Siliwangi ke 8 yaitu Kolonel Ibrahim Adjie. Pada Tahun 1979 gedung ini dibangun / direhabilitasi kembali menjadi gedung bertingkat dua, kemudian diresmikan pada tanggal 10 Nopember 1980 oleh Pangdam Siliwangi ke 15 Mayjen Yoga Sugama dan Prasastinya ditandatangani oleh Presiden RI ke 2 (Soeharto)

(Sumber)

Posted In  Lokal and  Museum