MUSEUM KEHUTANAN MANGGALA WANABAKTI

MUSEUM KEHUTANAN MANGGALA WANABAKTI, Gelora, Central Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta, Indonesia. Jl. Gatot Subroto, Senayan, South Jakarta, Indonesia.

Monday - Friday: 09:00 - 15:00 Closed on Saturday, Sunday & Public Holiday

+6221 570 3246 Ext. 5166

Manggala Wanabakti Museum Kehutanan adalah satu-satunya museum kehutanan di Jakarta Kota . Diakui pada 24 Agustus , 1983 oleh Presiden kedua Republik Indonesia , Bapak Soeharto , bangunan 1.466m2 ini memiliki dua lantai . Koleksi museum ini berjumlah sekitar 883 artefak . Misinya adalah tetap menjadi pusat informasi dan dokumentasi hutan dan kehutanan Indonesia . Pemandu wisata tersedia dalam bahasa Inggris & Indonesia .

ATRAKSI UTAMA
Artefak & Foto exhiiting kehutanan Indonesia .

Informasi Lain

Tempat Parkir


Visited 1979 times, 1 Visits today

Add a Review

Rate this by clicking a star below:

 

Orang lain juga mencari

Didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1996 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Umum (Perum) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, yang kemudian dikukuhkan melalui Akta Notaris Pendirian Perusahaan Perseroan Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka tertanggal 30 Desember 1996 oleh Notaris Chufran Hamal, SH. di Jakarta, dan disahkan oleh Menteri Kehakiman melalui Keputusan Nomor C2-1820HT.01.01 Tahun 1997 tanggal 17 Maret 1997.

Posted In  Galeri dan BudayaIndustri & PerusahaanInstitusi Pemerintahan & InternasionalPercetakan and  Toko Buku

BIASA ArtSpace didirikan oleh Susanna Perini sebagai respon alami untuk berbagai pertemuan dia dengan seniman muda di Jawa dan Bali. Hosting galeri pertama pembukaan pameran pada tahun 2005, niat Susanna adalah untuk menyajikan seniman progresif Indonesia dan Internasional untuk kedua pengunjung dan penduduk Bali selama waktu di mana ada sedikit pengetahuan atau dukungan untuk seni kontemporer di pulau.

Selama bertahun-tahun, BIASA ArtSpace telah tumbuh menjadi sebuah wadah yang berbeda di mana seniman diundang untuk berdialog dan berinteraksi dengan masyarakat umum. Pameran dan proyek dipentaskan di ruang galeri mereka sendiri di Bali dan Jakarta atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga seni dan pemerintah nasional dan internasional telah semakin menjadi titik acuan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia.

Hosting berbagai solo dan kelompok pameran, BIASA ArtSpace telah disajikan banyak sangat diakui dan up-dan-datang seniman termasuk: Jumaldi Alfi, Matteo Basile, Enzo Cucchi, Heri Dono, FX Harsono, Indieguerillas, Samuel Indratma, Mella Jaarsma, Budi Kustarto, Kirsty Ludbrook, Eko Nugroho, Sara Nuytemans, Arya Pandjalu, Yuli Prayitno, Angki Purbandono, Astari Rashjid,

Posted In  Galeri dan Budaya and  Lokal

Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) yaitu dimana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, Berta menerbitkan hash penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Kecuali itu ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna, sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung “Societeit de Harmonie“). Bangunan ini berlokasi di jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung sekretariat Negara, di dekat Istana kepresidenan.

Jumlah koleksi milik BG terus neningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dutu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau “Sekolah Tinggi Hukum” (pernah dipakai untuk markasKenpetai di masa pendudukan Jepang, dan sekarang Departemen Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya “Gedung Gajah” atau “Museum Gajah” karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Kadang kala disebut juga “Gedung Arca” karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar “koninklijk” karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: “memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”.

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Kini Museum Nasional bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Nasional mempunai visi yang mengacu kepada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa”.

Posted In  Lokal and  Museum